Sejarah

by admin

Desa Tunggul sudah ada sejak zaman Wali Songo, sebagai cikal bakal/orang yang merintis Desa Tunggul adalah santri Sunan Drajat/Raden Syarifuddin.

Konon santri Kanjeng Sunan Drajat tersebut tiadan ada yang tahu namanya namun dimakamkan di makan desa Tunggul sekarang, setelah nyantri/mondok di Sunan Drajat bertahun-tahun akhirnya ilmu yang diperoleh dari Kanjeng Sunan Drajat, baik ilmu keagamaan maupun ilmu kemaysrakatan dianggap sudah cukup dan mumpuni. Maka santri tersebut ditugaskan oleh Kanjeng Sunan Drajat untuk menyebarkan Agama Islam/berdakwah di sebelah barat desa Drajat.

Karena beliau adalah santri yang baik, maka perintah gurunya dilaksanakan dengan penuh tulus dan keikhlasan. Akhirnya berangkatlah beliau ke sebelah barat desa Drajat. Belum jauh perjalanannya, beliau bertemu dengan salah seorang penduduk dan disitu telah ada beberapa rumah. Akhirnya beliau singgah dan berkenalan dengan  warga desa  serta menyebarkan ajaran Agama Islam, sesuai dengan perintah yang diamanatkan oleh gurunya yaitu Sunan Drajat.

Hari demi hari, minggu demi minggu bahkan berbulan-bulan beliau menyebarkan Agama Islam, mengajak masyarakat tersebut untuk menyembah kepada Allah, meninggalkan keyakinan dan agama nenek moyangnya sertra kondisi masyarakat Tunggul waktu itu tergolong abangan . Namun ajakan beliau tidak dihiraukan oleh masyarakat/warga, bahkan banyak yang menentang dengan berbagai macam cara.

Walau banyak rintangan dan cobaan, beliau masih tetap menyebarkan Agama Islam. Begitu juga masyarakat tidak henti-hentinya menentang dan menghalang-halangi kegiatan beliau dalam berda’wah sampai-sampai ada masyarakat yang keranjingan/kesurupan.

Akhirnya pada suatu hari beliau sowan/menghadap kepada gurunya yaitu Raden Syarifuddin/Raden Qosim (Sunan Drajat) menceritakan perihal da’wahnya yang ditentang dan dihalang-halangi oleh warga setempat. Setelah Kanjeng Sunan Drajat memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikan oleh santrinya tersebut. Akhirnya Sunan Drajat merasa kasihan dan menyuruh santri tersebut berda’wah menyebarkan Agama Islam ke sebelah baratnya desa tadi (desa yang masyarakatnya banyak menentang dan menghalangi dalam berda’wah).

Kata Kanjeng Sunan Drajat : Kalau kamu mau pergi ke sebelah baratnya lagi maka kamu akan menjadi orang Pinunjul disegani wargamu asal kamu bisa menjalankan amanah yang disyariatkan oleh Allah. Berlakulah arif dan bijaksana dalam menangani permasalahan. Mudahkanlah segala urusan karena agama itu adalah mudah dan jangan dipersulit. Jangan menggenggam tangan dan menekuk kaki, bila kamu bisa melaksanakan semua itu kamu pasti akan menjadi pemimpin yang pinunjul dan wargamu akan menjadi warga yang unggul.

Maka berangkatlah santri tersebut ke tempat yang telah ditentukan oleh Kanjeng Sunan Drajat dengan terlebih dahulu meminta doa restu “Aji aji, Joyo Kawiyayan” kepada Raden Syarifuddin/Sunan Drajat. Tidak begitu lama dalam perjalanan, sampailah beliau di tujuan dan berjumpa dengan warga. Akhirnya beliau memutuskan untuk menetap di Desa Tunggul ini.

Nama Desa Tunggul itu berasal dari istilah Mino Tunggul Ulung yang berati Mino artinya Ikan Tunggul artine Yen Metu Unggul atau Pawetune Unggul Ulung antinya tershohor/terkenal namun dengan bergeserya waktu orang sering menyebut Tunggul saja, dan menurut cerita di Pelabuahan yang dulu pelabuhan ini adalah milik belanda yang bernama Marmoyo sebelah baratnya ada ikan besar ada yang menyebut ikan Bah dalam cerita ada orang yang memancing ikan disekitar itu perasaannya naik di atas batu sehingga saat memancing beliau bergeser tidak terasa setelah tahu diselama memancing itu diatas ikan besar itu orang saering berpesan hati hati nak kalau mau kelaut mancing atau karang ada ikan bah ikan itu lah yang sebut ikan Mino Tunggul Ulung dan kepalanya posinya sering di sebelah selatan .

Adat istiadat di tempat baru ini, tidak jauh berbeda dengan tempatnya yang dulu, namun masyarakatnya lebih ramah dan sopan, dalam setiap kesempatan bertemu dengan warga, tidak lupa menyisipkan ajakan untuk berbuat kebaikan, menolong sesama dan beribadah kepada Allah. Beliaupun juga senantiasa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.

Da’wah memang tidak semudah yang dibayangkan, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun warga maysrakatnya masih banyak yang belum mau meninggalkan kebiasaan/adat istiadat yang diwarisi dari nenek moyangnya. Dengan sabar dan tekun beliau membimbing warga masyarakat.

Ketekunan, ketelatenan dan kesabaran beliau akhirnya membuahkan hasil, beliau disegani warga masyarakat setempat dan menjadi panutan, segala perintahnya dilaksanakan oleh masyarakat. Karena patuh pada pimpinan/panutannya dan atas arahan yang baik oleh panutan/pimpinannya maka warga masyarakat selalu sukses/unggul dalam bidang pertanian maupun keseniannya. Akhirnya kelak tempat ini dinamakan Tunggul.

Mengenai tempat peristirahatan terakhir/makam dan nama beliau, beberapa narasumber dan ahli sejarah tidak menyebutkan secara pasti. Karena di desa Tunggul ada 4 makam tua yang mengelilingi desa yaitu sebelah Barat (sekarang berada di tengah-tengah desa dan menjadi makam desa) disitu ada makam tua yang disebut Kal-Bakal (cikal bakal/asal muasal) dan disebelah Barat Daya desa Tunggul juga ada makam tua yang disebut makam Jogoboyo, sekarang orang menyebutnya “Rumbuk Makam”.disebelah barat daya juga ada makam tua masyarakat bilang makam Mbah Ploso diperbatasan dengan desa Sendangagung

Sedang di sebelah Timur laut/Timur juga ada makam tua yang konon juga makam pendiri desa. Lalu ada lagi disebelah Tenggara Desa ada makam tua yang disebut “Keramat”. Konon itu adalah makamnya Mbah Bodo Urang atau disebut  Cebol Kepalang karena  orangnya pendek tapi mempunyai joyo kawijayan yang tinggi menurut cerita beliau beragama Buda sehingga orang tunggul ini sering menyebut buda budane biyen nak . Waktu dulu masyarakat bila melaksanakan sedekah bumi bertempat di makam Keramat ini sehingga tiap tahun ada kesenian Gong gongan atau tandaan seluruh masyarakat membawa makanan dengan dipikul dengan lincak terbuat dari bambu dan jajan rengginan besar melingkar didepan lincak dan menyembelih kambing untuk sesaji pada Mbah Bodourang  . dan tempat Keramat itu sering digunakan masuyarakat tunggul bertapa / nyepi itupun masih berjalan sejak jaman penjajahan belanda sampai tahun 1970an . Di Desa Tunggul ini terdapat juga tokoh legendaris yaitu KH. Muhammad Amin Musthofa beliau masih keturunan Kanjeng Sunan Drajat dan juga keturunan Jiko Tingkir dalam sejarah Babat tanah Jowo dari Syeh Abdul Jabbar  beliau keturunan orang Alim yaitu Mbah KH. Musthofah Amin Kranji beliau tahun 1936 sudah mendirikan Pondok Pesantren Al AMIN dan madrasah Islamiyah beliau termasuk orang yang paling diperhitungkan oleh Belanda maupun Jepang beliau gigih membela rakyat termasuk memiliki santri santri di Desa Tunggul ini dan pada atahun 1948 beliau meninggal dunia di bunuh oleh belanda di Desa Dagan Solokuro dan di makamkan di sana bersana Kakaknya yaitu KH Muhtadi Sendang waktu itu Desa Tunggul seperti kehilangan lentera sedangkan Putra Putri Mbah Yai Amin masih kecil kecil Modinnya bernama Katiman dan dibantu oleh para santri Mbah Yai Amin dengan bijak beliau juga masih ngemong masyarakat yang menyembelih ditempat keramat  banyak yang ngalap berkah ,juga masih terdapat barian kupat mluar ini adalah tradisi masyarakat jika ada penyakit begebluk mengusirnya dengan barian kupat mluwar dengan seluruh masyarakat membuat kupat lanang kupat wedok dan di sawah sawah kalau padi sudah mulai mungsu meteng atau ritual tingkeban tumpeng dan pleret kuping gajah danb jajan pasar di tarus di pojok pojok sawah katanya ngaweruhi Mbok sri kuncung (dewa tanaman \) begitu pula kalau membuat Dapur/ pawon orang jawa bilang diatasnya dikasi susur untuk nginang dan kaca ini dipersembahkan untuk Nini Towok / desa api. Seperti ini oleh Al marhun Bapak kepala Desa Samiran Hadi prayitno beliau berhasil merubah setelah ada G.30 S.PKI tahun 1945 maka sedekahan sudah tidak ada lagi lalu dialih dengan perayaan Karnaval yg masih ada simbul Lincak dan Gurdo kemudian berganti Mbah Modin Abdus Salam beliau berjanji Aku gelem dadi Modin Deso Tunggul nik ora ono sing nyembelih Wedus Nok Kramat ini terjadi pertengahan 1970an .

Mengenai kegotong royongan masyarakat Tunggul sejak dulu kompak yang dulu sering disebut Brokohan yaitu kerja tanpa upah, dalam istilah jawa sepi ing pamrih rame ing gawe.

Sejarah Kepala Desa yang memerintah Desa Tunggul     :

  1. Bapak Singorejo (Petinggi Jaman Belanda)
  2. Bapak Wongsorejo/Kartip (1901 – 1941)
  3. Bapak Tirto Atmojo/Samsul Hadi (1941 – 1970)
  4. Bapak Samiran Hadi Prayitno (1970 – 1990)
  5. Bapak Sutopo (1991 – 2007)
  6. Bapak M. Yasin (2007 – 2019)